Senin, 07 November 2011

Seni Budaya Kalimantan Barat

Seni Budaya Kalimantan Barat



    Barongsai Singkawang

 Singa merah tampak mengendap-endap. Haap! Ia meloncat dan bertengger di sebuah tiang.
 
Si singa merah bertubuh panjang mulai menari. Para pemain musik mengiringi barongsai dengan tabuhan bertalu-talu. Dug, dug, jreng! Wuih, meriah sekali.

Barongsai siap beraksi!
Kota Singkawang, Kalimantan Barat  terkenal dengan pertunjukkan barongsai. Apalagi menjelang hari Imlek  dan Cap Go Meh , semakin banyak yang berlatih.
Pemain barongsai biasanya berlatih satu jam dalam sehari dan dilakukan rutin setiap hari. Pemain ini kadang bergantian dengan pemain musik jika sudah kelelahan.
Selain sering tampil di klenteng, barongsai juga berkeliling dari rumah ke rumah.
Setelah pamer kebolehan, mereka akan mendapat angpau dari pemilik rumah. Angpau sering diletakkan di tempat yang tinggi oleh pemilik rumah.
Barongsai pun harus meloncat tinggi untuk mengambil angpaunya. Seru Sekali.
Selain barongsai ada juga penari naga. Nah, kalau yang ini, dimainkan oleh orang dewasa. Ini karena naganya sangat berat. Bayangkan, panjang naga 70 meter dan berat kepalanya 20 kg.
Untuk mengangkat si naga yang berat dan panjang, dibutuhkan 40 orang dewasa. Pertunjukkan naga biasanya berlangsung sekitar tiga jam. 
Saat lampu menyala, naga akan terlihat sangat bagus. Setelah dimainkan, naga pun langsung dibakar. Aduh, sayang sekali. Padahal untuk membuat naga ini menghabiskan biaya sekitar 30 juta, lho. Tapi, ini memang kepercayaan dan tradisi mereka.

ü    Si Panjang dari Singkawang
Dari jauh terlihat seperti tirai yang sedang dijemur. Begitu dekat, ternyata itu mie khas Singkawang, misua atau misoa.

Mi dijemur dengan cara seperti ini.Misoa adalah warisan leluhur Cina. Bagi orang Tionghoa, misoa adalah makanan istimewa. Apalagi saat ada yang berulang tahun, hidangan berupa mi panjang pun tak pernah ketinggalan. Mereka percaya mi adalah lambang panjang umur.
Bentuk misoa bulat panjang, seperti bihun. Warnanya putih susu. Tekstur misoa yang halus ini berasal dari campuran, telor, tepung terigu, dan bahan-bahan lainnya.
Semua bahan itu dituang dalam satu tempat, kemudian dicampur menggunakan alat hingga menjadi adonan. Selanjutnya, adonan itu dipotong hingga menghasilkan mi yang panjang-panjang.
Setelah itu, misoa dijemur. Pemandangan misoa dijemur ini memang luar biasa. Dari kejauhan jemuran misoa tampak seperti tirai putih yang berayun-ayun ditiup angin. 

    Rumah Betang Punya Kepala Suku
Satu rumah dihuni banyak orang. Itulah ciri khas rumah betang.


Saat berkabung, warga rumah betang tidak melakukan kegiatan yang sifatnya berisik. Satu rumah untuk semua, itulah rumah betang. Beberapa keluarga tinggal di sana dengan jumlah penghuni sekitar 100-150 orang. Keluarga besar ini dipimpin oleh seorang tetua yang disebut Pembakas Lewu .
Rumah betang berfungsi sebagai pusat kegiatan masyarakat Dayak. Di sini, orang Dayak melakukan kegiatan, seperti menenun, memahat, mengukir, menari dan melaksanakan upacara adat.
Warga rumah betang sangat memelihara rasa kekeluargaan. Jika ada salah satu penghuni meninggal, semua warga betang ikut berkabung.
Rasa berkabung itu ditunjukkan selama satu minggu. Mereka tidak menyalakan musik, tidak berisik, tidak menggunakan perhiasan, tidak minum saguer  (minuman tradisional dari beras ketan), dan tidak menghidupkan alat elektronik.
Sebaliknya, jika salah seorang penghuni rumah betang memperoleh ikan dan hasil buruan lainnya, perolehan itu dibagi-bagi dan dimakan bersama-sama. 


  Wayang Gantung
Wayang gantung, sebuah kesenian yang hampir punah dari daerah Singkawang, Kalimantan Barat.

 Wayang  memang banyak jenisnya. Salah satunya, wayang gantung. Namanya hampir tidak pernah kedengaran lagi. Salah seorang kakek Chin Nen Sin di Desa Lirang, Singkawang Selatan masih menyimpan boneka wayang gantung asli dari Cina.
Kakek Chin Nen Sin menyimpan koleksi boneka wayang gantung yang sudah berusia 200 tahunan.
Kakek itu menyimpan rapih boneka wayang gantung yang telah berusia 200 tahunan. Boneka-boneka wayang itu dismpan rapih dalam peti dan baru dikeluarkan saat pertunjukkan berlangsung.
Boneka wayang gantung merupakan sisa-sisa tradisi warisan leluhur etnis Tionghoa di Singkawang. Konon, koleksi boneka ini hanya tinggal satu-satunya di Indonesia.
Pertunjukkan wayang gantung dimainkan oleh 112 orang. Semua pemainnya adalah kakek-kakek. Hmm, generasi muda belum banyak yang tahu tentang pertunjukkan wayang ini. Jadilah, kakek-kakek yang paling menguasainya.
Pertunjukkan wayang gantung diiringi dengan kecapi dan lagu Mandarin. Selain itu, ceritanya juga dituturkan dalam bahasa Cina.

     Tradisi Robo-robo
Robo-robo berasal dari kata Robo atau Rabu.


Tradisi Robo-Robo
Diadakan pada Rabu terakhir bulan Sapar (Hijriah) yang menyimbolkan keberkahan. Menurut cerita, ritus ini merupakan peringatan atau napak tilas kedatangan Pangeran Mas Surya Negara dari Kerajaan Matan (Martapura) ke Kerajaan Mempawah (Pontianak).
Ritual tersebut dimulai ketika Raja, Ratu Mempawah, putra-putrinya serta punggawa dan pengawal berangkat dari Desa Benteng, Mempawah, menggunakan perahu bidar, yakni perahu kerajaan dari Istana Amantubillah. Kapal tersebut akan berlayar menuju muara Sungai Mempawah yang terletak di Desa Kuala Mempawah dengan jarak tempuh sekitar satu jam perjalanan. Di muara sungai akan dilakukan semacam upacara "penyambutan" ke laut seperti ketika Opu Daeng Menambon tiba di muara sungai tersebut untuk pertama kalinya.
Robo-robo itu sendiri dimaksudkan sebagai suatu peringatan serangkaian kejadian penting bermula Haulan pada hari Senin malam Selasa terakhir bulan Syafar guna mengenang hari wafatnya Opu Daeng Manambun.
Bagi warga keturunan Bugis di Kalbar, robo-robo biasanya diperingati dengan makan bersama keluarga di halaman rumah. Tidak hanya di rumah, makan bersama juga dilakukan siswa di berbagai sekolah baik tingkat SD hingga SMU pada Rabu pagi. 

 Tari Monong
Salah satu tarian khas Provinsi Kalimantan Barat.
 
Sumber :: Dwi Jayanti

Tidak ada komentar:

Posting Komentar