Senin, 07 November 2011

Gelar Budaya Dayak se-Kalimantan

Gelar Budaya Dayak se-Kalimantan

Gubernur Kalimantan Barat H Usman Ja’far siang ini akan membuka Pekan Gawai Dayak dan Gelar Budaya Dayak se-Kalimantan. Pembukaan tepat pukul 12.00 WIB dipusatkan di Betang, Jalan Sutoyo.Seusai pembukaan gubernur akan melepas display budaya. “Display budaya ini melibatkan semua etnis yang ada di Kalbar termasuk kontingen Kalteng, Kaltim, Kalsel dan Sabah,” ungkap Martinus Sudarno, sekretaris umum panitia.Rute yang akan dilewati iring-iringan display budaya, setelah start di Betang, masuk ke Jalan A Yani, lalu masuk Jalan Veteran, Gajahmada, Diponegoro, Tanjungpura, Pahlawan, dan kembali ke Betang.“Kita ingin menampilkan semua budaya yang hidup dan berkembang di Kalbar ini melalui display budaya, bukan hanya budaya Dayak saja, tapi etnis lainnya juga, seperti Melayu, Madura, Tionghoa, Batak, Bugis, Jawa dan lain-lain,” ujar Sudarno.Rencana semula, Gawai Dayak dan Gelar Budaya Dayak se-Kalimantan akan dibuka Menteri Pariwisata RI, Jero Watjik. Namun kabar terakhir diterima panitia bahwa Watjik masih berada di luar negeri, maka gubernur sebagai perpanjangan tangan pemerintah pusat di daerah yang akan membuka acara dimaksud.Pekan Gawai Dayak sudah sering digelar di Kalbar. Bahkan Sekberkesda (Sekretaris Bersama Kesenian Dayak) telah menetapkan pelaksanaan Pekan Gawai Dayak pada setiap tanggal 20 Mei. Sudah masuk kalender tahunan pariwisata Provinsi Kalimantan Barat.Pada pagelaran Gawai Dayak tahun 2006 lalu, panitia pelaksana bersama Dinas Pariwisata mengundang Direktorat Tradisi Direktoral Jenderal Nilai Budaya, Seni dan Film Departeman Kebudayaan dan Pariwisata RI. Sejak tahun lalu, Gawai Dayak masuk kalender pariwisata Kementerian Pariwisata RI. “Tapi dalam pelaksanaannya Departemen Kebudayaan dan Pariwisata mengusulkan kegiatannya mencakup Kalimantan, maka dilaksanakanlah Gelar Budaya Dayak Kalimantan untuk yang pertama kali ini,” jelas Fredrik Kuyah, ketua umum panitia pelaksana beberapa waktu lalu.Senada dengan Fredrik Kuyah, Kadis Pariwisata Provinsi Kalbar, Rihat Natsir Silalahi mengatakan, Gelar Budaya Dayak se-Kalimantan ini merupakan yang pertama kali digelar. “Kita patut bersyukur dipercaya sebagai tuan rumah pertama,” katanya.Sebagai tuan rumah, kita hendaknya menjaga ketertiban dan keamanan daerah, baik selama gawai berlangsung maupun setelah kegiatan. “Ini kegiatan pariwisata, banyak manfaat yang bisa diambil dari gawai ini. Selain mengundang orang untuk membawa uangnya ke Kalbar, juga peluang usaha bagi pengrajin memperkenalkan produknya,” jelas Rihat.Karena ini terkait dengan program Kementerian Pariwisata, maka pendanaan juga dari Kementerian Pariwisata. “Pelaksanaannya tetap diserahkan kepada masyarakat Dayak selaku tuan rumah dan juga yang tahu dengan budayanya sendiri. Kita sifatnya fasilitator saja,” ungkap Rihat dalam jumpa pers bersama panitia tiga hari lalu.Beraneka permainan rakyat dan budaya lokal yang akan ditampilkan dalam Pekan Gawai Dayak dan Gelar Budaya Dayak. “Setiap kontingen atau utusan daerah masing-masing sudah siap tampil, termasuk dari Kalteng, Kaltim dan Kalsel,” ungkap Yosehp Odillo Oendoen, bidang pementasan dan pertunjukan.Menurutnya, selain menampilkan budaya dan permainan rakyat, juga akan dipilih Bujang dan Dara Gawai 2007. “Bujang dan Dara Gawai ini nantinya akan menjadi duta pariwisata daerah. Mereka punya tanggung jawab mempertahankan dan melestarikan budaya daerah khususnya Dayak,” katanya.Saya kemarin sempat berkunjung ke arena gawai di Betang. Kesiapan panitia sudah matang. Kontingen dari Kalteng-Kaltim dan Kalsel juga sudah datang, termasuk dari kabupaten/ kota. Demikian juga dengan stand-stand yang khusus menyediakan makanan dan minuman, tertata rapi di bagian belakang Betang. Sedangkan bagian depan Betang sengaja dikosongkan untuk kegiatan dan tempat penonton. Lalu stand pameran panitia ditempatkan di lingkungan Museum Negeri Jalan A Yani, Pontianak.Lazimnya orang Dayak zaman dahulu, sebelum memulai sesuatu harus permisi dulu dengan penguasa alam atau Jubata (Tuhan). Karenanya, sebelum gawai dimulai, panitia sudah permisi dengan menggelar upacara adat Ngampar Bide, Jumat dua hari lalu. Maksudnya agar selama kegiatan gawai berlangsung, dijauhkan dari segala bencana dan musibah.

Sumber :: Dwi Jayanti

Tidak ada komentar:

Posting Komentar