Jumat, 18 Februari 2011

Sè-ker-ta-ris eh Sekretaris SASARAN GOSIP, OLOK-OLOK, DAN KECURIGAAN.

Setelah seorang kepala unit anyar menyampaikan kualifikasi (bukan spesifikasi –– emang barang?) sekretaris yang dibutuhkan, orang HRD maupun sejawat di kepala unit pun berkomentar sama: “Anda butuh marinir ya? Atau nyari pensiunan Kopassus?”

Inilah sebagian syarat yang dia ajukan untuk calon sekretaris di luar urusan administrasi. Pria, sehat, pintar panjat tebing, mahir bela diri, suka arung jeram dan menelusuri gua, paham evakuasi saat kebakaran dan gempa.

Alasan si kepala unit, “Supaya dia bisa melindungi teman-teman sekantornya dan bisa mewakili unitnya untuk acara olahraga. Syukur kalau dia bisa main musik dan menyanyi, supaya kalau ada pentas seni kita nggak perlu manggung.”

Entah kenapa keinginan itu mengundang tawa. Tak sedikit yang heran, “Nyari sekretaris kok laki? Mestinya nyari cewek yang cantik, sexy, blablabla…” Di antara komentator itu ada juga perempuan.

Yang sial, setelah ada sekretaris baru, wanita, satu-dua orang memanggilnya Mas Bagus. Alasannya, “Bosmu dulu nyarinya sekretaris laki, kan?”

Hmmm… sekretaris cantik dan sexy dan entah apalagi. Komik, novel, film, guyon, dan pergunjingan juga sering menampilkan si cantik lagi seksihh itu. Hiburan dewasa? Apa lagi! Jarang ada fiksi romansa bos (pria) dengan kepala bagian akunting (wanita) atau kepala bagian pembelian (juga wanita) — padahal namanya juga di dunia kerja, itu bisa saja, kan?

Sudahlah. Ini soal kuno. Mungkin malah klasik karena bertahan hingga hari ini. Sekretaris adalah si cantik yang beristimewa dengan bos dan seterusnya. Cobalah cari “secretary” dan “sexy secretary” di images.google.com. Yang kedua lebih menjurus, dan tentu hasilnya berlimpah. Mesin pencari membantu pemetaan kognisi khalayak.

Lucunya, sebagian penutur maupun penikmat guyon dan fitnah (dan imajinasi aneh-aneh) juga paham bahwa umumnya sekretaris tidak begitu. Mereka pun paham asal kata secretary.

Orang-orang itu juga paham, jarang ada cerita wanita bos punya affair dengan pria sekretarisnya. Oh ya, wanita bos yang punya pria sekretaris juga jarang kan?

Untunglah para sekretaris sudah dibekali soal mispersepsi itu ketika bersekolah. Misalkan dinalar juga gampang: jika profesi sekretaris dekat dengan citra penggoda maka tak ada kantor yang akan merekrutnya.

Pekerjaan sekretaris betulan itu tidak gampang. Barusan saya dimintai konfirmasi oleh sekretaris seorang tokoh perihal jadwal bosnya hari ini dan besok. Bosnya mulai pelupa dan memasrahkan segala hal ke sekretaris yang sudah likuran tahun mendampinginya.

Juga barusan seorang sekretaris sebuah kantor harus berpusing-pusing dengan urusan bosnya, dan sejawatnya, yang sebetulnya tak ada kaitanya dengan pasal dinas. Itu soal utang piutang si sejawat kepada pihak di luar kantor.

Pusing adalah menu harian sekretaris. Dengan catatan kalau dia memang menyukai kepusingan. Nyatanya saya pernah tahu seorang sekretaris belia, baru berusia 21 tahun, yang jarang pusing.

Dia cekatan, dan terhadap bosnya dia bisa tegas, “Maaf, katanya mau kasih assignment untuk saya dan anu hari ini. Mana, Mas?” Lain kali dia enteng saja meng-SMS bosnya yang sedang menerima tamu dadakan, “Mas, cm remind, 10 mnt lg ada meeting dgn BOD.” Lain waktu dia cuma kasih pesan via Y!M, “Mau lunch di luar sekalian nengok sale. Kalo ada perlu call me aja. Thx.”

Lebih penting lagi, anak cakep itu juga dipercayai oleh istri bosnya, sehingga dalam keadaan mendesak, karena suami tidak bisa dikontak, maka si istri dengan permisi dan maaf akan menanya si sekretaris, atau menitip pesan. Selebihnya tiada interogasi atau selisik.

Ini menarik karena sekretaris-sekretaris sebelumnya kurang dipercayai si istri, bahkan ada yang membuatnya was-was.

“Ini soal perasaan wanita. Bukan soal apakah sekretaris yang itu dan yang ini lebih cantik atau lebih jelek dari aku, Yah… Bisa jadi masalahnya di dia, bisa juga di Ayah, atau kedua belah pihak. Siapa tahu kan?” kata si istri.

Hayah! Gombal magombal-gambul! Urusan kedinasan dipaksakan masuk ke ranah domestik. Kesian para sekretaris — dan keluarganya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar